Sekelumit Kisah Tentang Cat Air

Lukisan Cat Air
Author : Deskamtoro

Cat air atau populer juga dengan sebutan aquarel adalah medium lukisan yang menggunakan pigmen dengan pelarut air dengan sifat transparan. Meskipun medium permukaannya bisa bervariasi, biasanya yang digunakan adalah kertas. Selain itu bisa pula papyrus, kulit, kain, kayu, atau kanvas. Secara umum, cat air digunakan karena sifat transparansinya. Gouache adalah medium pengencer air yang tidak transparan tetapi bersifat menutup. Hasil karya lukisan cat air biasanya bersifat sangat ekspresif, atau sebaliknya sangat impresif, tergantung teknik yang digunakan.

Apabila ditilik dari sejarah perkembangan seni lukis cat air, kita bisa merunut dari perkembangan seni lukis dunia yang diawali dengan lukisan-lukisan tertua yang berada di Chauvet Grotte di Perancis. Lukisan-lukisan ini diklaim oleh beberapa sejarawan dari sekitar 32.000 tahun yang lalu. Lukisan itu diukir dan dicat menggunakan oker merah dan pigmen hitam dan menampakan kuda, badak, singa, kerbau, raksasa, desain abstrak dan sejenis sosok manusia mungkin parsial. Namun bukti paling awal penciptaan lukisan telah ditemukan di dua tempat penampungan batu di Arnhem Land, di Australia utara. Pada lapisan terendah material pada situs ini tidak digunakan potongan oker diperkirakan 60.000 tahun. Para arkeolog juga menemukan sebuah fragmen dari lukisan batu diawetkan dalam batu kapur batu-tempat penampungan di wilayah Kimberley Utara-Australia Barat, yaitu tanggal 40 000 tahun. Ada contoh lukisan gua di seluruh dunia-di India , Perancis, Spanyol, Portugal, Cina, Australia, dllDalam budaya Barat lukisan cat air memiliki tradisi kaya dan kompleks dalam hal gaya dan subjek. Dalam tinta Timur, tinta dan warna historis didominasi pilihan media dengan tradisi sama-sama kaya dan kompleks.

Sementara itu, ada sejarah lain yang menunjukkan perkembangan lukisan cat air dimulai dari penemuan kertas di Tiongkok sekitar 100 M. Pada abad 12 bangsa Moor memperkenalkan kertas ke Spanyol dan kemudian menyebar ke Italia beberapa dekade berikutnya. Pabrik kertas tertua terletak di Fabriano, Italia yang didirikan tahun 1276, dan Arches, Perancis pada tahun 1492. Teknik cat air menjadi terkenal di Eropa dengan sering digunakannya teknik fresko. Lukisan cat air tertua yang pernah ditemukan dibuat oleh Raffaello Santi yang membuat kartun-kartun untuk desain gorden. Di Jerman, Albrecht Dürer membuat lukisan cat air pada abad 15. Sekolah lukisan cat air pertama dibuka oleh Hans Bol dan sangat dipengaruhi oleh karya-karya Dürer. Pelukis cat air terkenal lainnya adalah van Dyck, Thomas Gainsborough, dan John Constable. Paul Sandby dianggap bapak lukisan cat air Inggris Raya.

Cat air dibuat dari pigmen halus atau serbuk warna (dye) yang dicampur dengan gum arabic sebagai bahan baku, serta gliserin atau madu untuk menambah kekentalan dan dayarekat pikmen warna ke permukaan.

Biasanya cat air digunakan dengan kuas lancip yang lembut bulunya dan air yang berlebih, tetapi bisa pula dicampurkan dengan material lain. Biasanya akrilik atau collage. Cat air dengan campuran air berlebih menghasilkan warna yang terang dan segar. Warna ini dihasilkan oleh cahaya yang mampu menembus lapisan cat yang transparan.
Warna putih biasanya dihasilkan dari bagian-bagian yang tidak diberi lapisan cat. Sangat jarang lukisan yang sengaja memberikan lapisan putih dari cat air.

Menggunakan cat warna butuh kesabaran yang tinggi. Teknik yang umum digunakan biasanya dihasilkan dari lapisan-lapisan yang saling ditimpakan setelah lapisan sebelumnya telah kering sehingga menghasilkan gradasi warna. Namun teknik lain wet-on-wet yang menimpakan warna di atas lapisan yang masih basah juga membutuhkan ketelitian tinggi untuk mendapatkan hasil maksimal. Resiko lainnya adalah kertas menjadi melengkung atau robek jika terlalu banyak menggunakan air dan terlalu banyak gesekan kuas dengan permukaan kertas.

Walaupun melukis dengan menggunakan cat air adalah basic dari belajar melukis secara umum, tetapi belajar melukis cat air sering kali dilewatkan karena dianggap mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi dibandingkan melukis dengan bahan lainnya. Mungkin saja melukis menggunakan cat air tidak banyak menjadi pilihan para pelukis, hal tersebut dikarenakan berbagai faktor, antara lain: lukisan cat air tidak seawet lukisan cat minyat yang mampu bertahan selama ratusan tahun, hal tersebut dikarenakan bahan yang digunakan untuk melukis cat air menggunakan media kertas yang tentu saja ketahanan terhadap cuaca sekitar akan sangat rentan terhadap kerusakan. Hal lain yang menjadikan lukisan cat air kurang menjadi pilihan karena tingkat kesulitan dalam teknik cat air, keterbatasan media yang digunakan, serta sagat rentan dengan faktor cuaca ruangan.

Apabila dikatakan mudah, sebenarnya melukis dengan menggunakan cat air cukup sulit karena pelukis harus memahami kualitas kertas atau media yang digunakan, cat yang digunakan, kekentalan serta keenceran cat, jumlah air yang dibutuhkan saat menorehkan car kemedia, komposisi warna yang akan sangat berpengaruh terhadap hasil akhir, pencampuran warna agar menciptakan suatu gradasi yang diharapkan, basah serta keringnya cat yang akan dicampurkan diatas media serta pengolahan emosi pelukis saat menorehkan warna yang dipilihnya keatas media. dari beberapa diskusi dengan beberapa seniman cat air dan orang yang sedang belajar melukis dengan cat air, saya menadapatkan beberapa pendapat yang kurang lebih hampir sama, yaitu melukis dengan cat air, kadang hasil yang kita inginkan tidak sesuai dengan hasil, baik dari warna maupun gradasi warna. Banyak faktor yang mempengaruhi suatu hasil dari melukis menggunakan cat air, hal tersebut seperti yang sudah saya jelaskan diatas. 

Tetapi, melukis menggunakan cat airpun mempunyai beberapa kelebihan yang tidak dimiliki saat melukis dengan teknik lainnya. teknik melukis dengan cat air memberikan warna-warna yang ekspresif dalam suatu karya lukis. Nilai ekspresif itulah yang sering kali akan mengejutkan karena dipengaruhi juga dengan media yang digunakan oleh pelukis. Ketepatan dalam memilih bahan, media serta objek lukisan menjadikan melukis dengan teknik cat air lebh menghasilkan warna yang beragam serta memberikan berbagai macam kejutan-kejutan dalam setiap segmen cerita yang diuangkapkan. Melukis menggunakan cat air itu 50:50, hal tersebut dikarenakan seperti kita bermain dadu, dalam satu sisi hasil yang kita dapatkan karena kemampuan teknik serta kemampuan kita dalam menguasai media, alat maupun bahan tetapi disisi lain hal tersebut dikarenakan faktor-faktor aliran air, kebasahan kuas, serta faktor cuaca dan yang pasti kejelian pelukis dalam mengenal karyanya saat penciptaan. Berbagai teknik bisa menjadi pilihan dalam melukis menggunakan cat air, mulai dari teknik halus, bloboran, serta berbagai teknik lainnya, juga berbagai aliran karya senipun bisa tecipta, mulai dari realist, naturalis, ekspresif, abstrak, kubisme, impresionis serta berbagai aliran seni lainnya.

Belum banyak seniman yang berkarya menggunakan cat air. Dari sekian banyak pelukis di Indonesia, lukisan cat air adalah lukisan yang belum banyak dilirik, karena lukisan cat minyak masih menjadi primadona dikancah seni lukis Indonesia maupun dunia. Tetapi tidak ada salahnya saat belum banyak pelukis ataupun penggiat seni memilih cat air sebagai media ekspresi dan kita para pelaku seni atau yang sedang belajar seni lukis menjadikan cat air sebagai media pilihan dalam berkarya seni. Bukankah berbeda serta memberikan rasa yang berbeda dalam suatu karya seni bisa mamberikan hal yang baru serta segar dalam kancah seni rupa? Bukan tanpa alasan hal tersebut coba dilakukan. Seni lukis cat air saat ini masih didominasi oleh seniman luar negeri semisal Amerika serta Eropa, sementara seniman di Indonesia masih belum banyak menyentuh seni lukis cat air sebagai pilihan. Menjadi pendobrak suatu kemapanan kesenian bisa juga sebagai alasan atau alternatif dalam berkarya seni. Perkembangan seni lukis di luar negeri sudah sejajar dengan seni lukis cat minyak, hal tersebut karena masyarakat luar negeri sudah memahami bagaimana suatu proses karya seni itu tercipta, bukan hasil akhir karya seni. Tentu tidak mudah melakukan hal tesebut di Indonesia, tapi tidak mudah bukan berarti tidak mungkin. Kualitas seniman cat air di Indonesia saat inipun mulai meningkat, berbagai event pameran dilakukan dalam skala kecil untuk mulai meperkenalkan melukis cat air ke publik agar menjadi pilihan dalam apresiasi karya seni, bukan lagi menjadi alternatif pilihan selain cat minyak, sebab dalam perkembangannyapun, melukis cat air bisa diaplikasikan pada media selain kertas, semisal kanvas, papan kayu, triplek, kaca, keramik, batu serta berbagai media alternatif lainnya. Pemanfaatan berbagai macam media tersebut bisa menjadi suatu pengalaman yang akan menarik untuk dilakukan agar cat air tidak hanya berhenti pada kertas saja tetapi bisa merambah pada ranah media lainnya. Penguasaan teknik tentunya menjadi hal mutlak yang harus dimiliki dari seorang pelukis cat air. Penguasaan bahan serta alat memberikan sumbangsih terhadap hasil yang diciptakan.

Jadi, menurut anda, apakah yang menjadikan seni lukis cat air menjadi pilihan dalam karya seni lukis dengan segala kesulitan, kerumitan serta kindahan dan pesona warnanya yang aktraktif dalam balutan tetesan air yang mengalir diatas kertas ataupun media alternatif lainnya? 
saya hanya berbagi opini, anda yang menilainya, anda yang menikmatinya serta andalah yang menjadikan cat air sebagai suatu karya sensasional dalam kancah seni rupa dunia...semua dimulai darimu untuk seni rupa dunia...

Author : Deskamtoro
salam ART!
Share:

Mengenal Deskamtoro

Deskamtoro Bersama Komunitas Cat Air Internasional
Mungkin tidak banyak orang yang ketika dewasa kelak bercita-cita untuk menjadi seorang pelukis. Terlebih orang tersebut tidak memiliki bakat sama sekali tentang seni lukis. Namun seorang pria asal Yogyakarta bernama Deskamtoro Dwi Utomo, nekat untuk mendalami dunia seni lukis tanpa memiliki bakat lukis sebelumnya.

Pria yang kini berprofesi sebagai pelukis cat air dan juga guru seni lukis ini sejak kecil memang sudah menyukai dunia seni lukis. Ketertarikannya timbul ketika pada saat kelas 4 SD dirinya memiliki seorang guru lukis yang menyenangkan. Sang guru kala itu kerap mengajak murid-muridnya untuk melukis di tengah perkebunan, tepi sungai atau persawahan, sehingga minat terhadap seni lukis pada diri Deskamtoro menjadi tumbuh.

"Padahal, kalau dibilang ada bakat enggak juga. Tetapi memang saat itu keinginan saya untuk menjadi pelukis sangat kuat," ujar Deskamtoro saat berbincang dengan GoHitz di Wisma Antara, Jakarta Pusat, beberapa waktu yang lalu. 

Keinginan Deskamtoro kala itu untuk menekuni seni lukis sempat mendapat tentangan dari kedua orang tuanya. Ayah dan ibu Deskamtoro menilai profesi sebagai seorang pelukis tidak menjamin kesejahteraan di masa depan. Selain itu, profesi ini juga dianggap tidak bisa menghasilkan banyak uang. Namun Pria kelahiran 6 Desember 1979 ini tetap nekat untuk menekuni bidang tersebut.

Di tahun 1995, Deskamtoro masuk ke Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) di Yogyakarta. Dirinya berhasil masuk ke sekolah tersebut berkat bantuan dari kerabatnya, karena sebelumnya ketika mendaftar lewat jalur reguler, Deskamtoro gagal lolos tes seleksi. Rasa hutang budi terhadap kerabatnya tersebut menjadi lecutan semangat bagi Deskamtoro untuk menekuni ilmu seni lukis dengan sungguh-sungguh. Hasilnya, Deskamtoro sukses masuk dalam peringkat 10 besar siswa berprestasi di sekolahnya. 

"Saya ingin membuktikan bahwa walaupun saya tidak memiliki bakat, tetapi ketika saya memiliki kemauan yang keras dan terus berusaha bersungguh-sungguh, saya bisa membuktikan kalau saya mampu," tutur pria asli Yogyakarta tersebut. 

Tahun 1999 Deskamtoro berkuliah di Institut Seni Yogyakarta. Di sela-sela aktivitas perkuliahannya, Deskamtoro juga mengambil pekerjaan di Jakarta untuk mengurusi berbagai proyek yang berkaitan dengan seni lukis. Dirinya percaya bahwa dengan bekerja, kemampuan dirinya di bidang seni lukis akan semakin terasah. Tentu dengan diimbangi oleh ilmu pengetahuan yang diperoleh di bangku perkuliahan. Deskamtoro lulus dari ISI Yogyakarta pada tahun 2007.

Lukisan Cat Air
Deskamtoro kini dikenal sebagai seorang pelukis yang fokus terhadap teknik lukis menggunakan cat air. Dia menganggap teknik melukis menggunakan cat air memiliki tantangan tersendiri. Meski banyak orang menilai teknik ini merupakan teknik dasar dalam melukis, tapi dalam prakteknya teknik ini memiliki tingkat kesulitan tersendiri. 

"Di seni lukis cat air kalau sudah salah tidak bisa diulang. Jadi, biarlah cat air yang melakukan prosesnya. Yang kedua Lukisan cat air tidak bisa direproduksi. Tidak bisa diplagiat. Saya jamin mau sedetail apapun tetap tidak bisa sama hasilnya," ucap pengagum karya-karya dari Pelukis S. Sudjojono ini. 
Karya-karya yang dihasilkan oleh Deskamtoro kebanyakan beraliran surealis-realis. Menurutnya, kedua aliran tersebut merupakan penggambaran dirinya yang merupakan seorang pemimpi dengan pemikiran dan imajinasi yang liar, namun tetap memperhatikan unsur-unsur realis dalam setiap karya lukisnya.

Kini, Deskamtoro telah berhasil membuktikan kepada keluaga dan orang-orang terdekatnya bahwa dirinya mampu hidup sejahtera dengan menjadi seorang pelukis. Selain menjadi seorang guru lukis di sekolah dan di sanggar-sanggar, dirinya juga kerap turut serta dalam pameran lukisan baik di dalam negeri maupun luar negeri. Ada satu mimpi besar yang ingin diwujudkan oleh Deskamtoro. Dia ingin membawa harum nama Indonesia di kancah dunia lewat seni lukis cat air. 

"Saya itu selalu ingin membawa nama harum Indonesia melalui seni lukis cat air. Mungkin pelukis lain sudah, tapi inginnya itu saya sendiri yang mengharumkan nama Indonesia lewat karya seni lukis cat air saya," tutur Deskamtoro. 

Source : GoHitz.com
Share:

Mengenal Choirun Soleh

Abah Choirun Sholeh Dalam Event Pameran PI di Karawang
SEKILAS BIOGRAFI CHOIRUN SHOLEH
Choirun Sholeh,( lahir di Klaten 17 juni 1967) anak terakhir dari lima bersaudara , mulai gemar menggambar sejak Sekolah Dasar, beberapa kali penghargaan di raihnya waktu mengikuti lomba lukis tingkat SD sekecamatan hingga kabupaten, setelah lulus SMA mulai fokus menggeluti seni lukis dengan otodidak, mengingat untuk meneruskan sekolah di Akademi Seni itu tidaklah mungkin karena kehidupan orang tua yang di bilang sangatlah pas-pasan. pada masa itu untuk bisa melukis, Choirun Sholeh sering kali terbentur dengan permasalahan biaya untuk membeli alat-alat lukis agar bisa terus menyalurkan hobby dan bakatnya tsb. Meminta uang pada orang tua tidaklah mungkin karena keadaan ekonimi orang tua yang bisa dikatakan tidak mencukupi untuk merealisasikan bakatnya ini, di tambah lagi alat-alat lukis terhitung mahal waktu itu untuk kelas pemula.
Tahun 1987, setelah lulus SMA tekadnya keras untuk bisa menyalurkan bakat melukisnya tersebut, Choirun Sholeh mulai mencari uang untuk dapat membeli alat-alat lukis dengan cara berjualan es potong (es Agogo) di daerah Tembilahan Indragiri Hilir Riau. Di belakang gerobak dorong ,dibawah payung diiringi terompet kecil toet-toet Choirun Sholeh keliling di setiap gang dan jalan di kota Tembilahan. Dari situlah dia mendapatkan uang dan mulai dapat membeli alat-alat lukis untuk meneruskan hobby melukisnya. Perjuangan menggapai impian Choirun Sholeh yang bisa dikatakan cukup keras itu belum membuat hasil karya lukisannya laku di jual dimasa itu. Kadang hanya ada saudara dan teman datang yang minta lukisannya itu. Usahanya di Riau berjalan hingga dua tahunan..
Tahun 1990, mulai membuka sanggar lukis di rumah sendiri. Saat itu lukisannya sudah mulai di beli orang namun tetap saja belum bisa menutupi biaya beli alat-alat lukis agar usahanya terus bisa berjalan. Karena pembeli lukisannya hanya tetangga dan orang sekitarnya saja. Waktu itu lukisannya dijual murah sekali. Kadang tidak bisa mematok harga yang layak dari bakat melukisnya tersebut dengan kata lain Choirun Sholeh hanya dapat berlega dengan membiarkan terserah pembeli mau bayar berapa untuk sekedar meng ganti biaya beli cat.
Lagi-lagi terbentur biaya untuk beli alat-alat lukis. Pekerjaan demi pekerjaan silih berganti di lakoni, dari jualan plastik bungkus di pasar Sleman, jualan buah di pasar Johar Semarang, tukang amplas di LIK (Lembaga Industri Kecil) Semarang. Akhirnya tahun 1991 Choirun Sholeh memutuskan berjualan Es potong lagi di kota Sambas – Kalimantan Barat. Perjuangan berat masih harus ditempuhnya. Karena hanya dengan berjualan es itulah uang bisa terkumpul secukupnya dan cat lukispun bisa terbeli. Begitulah seterusnya setiap cat habis solusi untuk dapat cat…, ya berjualan es potong. Karena sampai saat itu kalau harus mengandalkan hasil menjual lukisan saja belum bisa untuk membeli keperluan melukis.
Tahun 1992 Jakarta adalah persinggahan selanjutnya untuk seorang Choirun Sholeh. Mulai menguji dan menjajakan hasil karya lukisan di Jakarta dimana tempat berkumpulnya uang dan manusia. Di Jakarta inilah Choirun Sholeh mulai belajar menjalani lebih serius lagi hidup dengan hasil lukisannya dan Alhamdulillah dapat mengontrak rumah kecil di kawasan Lenteng Agung. Berrmodalkan tekad Choirun Sholeh mulai menawarkan hasil karyanya dari pintu ke pintu, rumah ke rumah orang-orang kaya. Keliling dari pagi hingga sore. Terkadang saat waktu pulang kekontrakannya.., tak satupun ada hasil. Pengalaman menjadi pelukis jalanan di kawasan Pasar Baru – Jakarta juga pernah dia lakoni. Panasnya terik matahari di bawah payung di pinggiran kali Choirun Sholeh menawarkan kepada para pengguna jalan untuk melukiskan wajahnya atau photo.
Di Jakarta inilah Choirun Sholeh mulai banyak mengetahui jenis aliran lukisan dengan berbagai macam bentuk dan modelnya setelah sering berkunjung di Pasar Seni Ancol dan tempat- tempat penjualan lukisan. Maklumlah Choirun Sholeh tidak belajar seni secara Akademis. Baru disadarinya kalau lukisan itu ternyata ada banyak macem aliran. Choirun Sholeh banyak belajar dengan melihat hasil karya pelukis pelukis senior di Ancol dan dan gallery-gallery. Bertanya tentang Lukisan, macam-macam cat, harga cat, cara membuat kanvas sendiri dengan baik. Bukan waktu yang singkat dan ringan untuk sebuah perjuangan.
Choirun Soleh 
Tahun 1994, Choirun Sholeh-pun menikah dan kemudian memutuskan untuk tinggal di Yogyakarta bersama Istri dan anaknya. Di Jogja inilah Choirun Sholeh mulai mengumpulkan terus hasil karyanya hingga tahun 1997. Setelah perjuangannya mengumpulkan hasil karya, mulailah Choirun Sholeh mencoba mengikutikan karya – karyanya pada FKY ( Festival Kesenian Yogyakarta) sebagai ajang pameran lukisan perdananya.
Setelah itu…., mulailah kehidupan sebagai seorang seniman di mulai lebih tekun lagi. Istrinya yang juga lulusan IKIP Jogja jurusan Seni Tari ikut mendukung profesi sang suami sebagai pengabdi seni ,mengarungi bahtera kehidupan bersama dalam suka dan duka sebagai keluarga seniman yang mencukupkan hidup dari hasil karya seni.
Pada Tahun 1997 itu Choirun Sholeh terus menerus mengikuti event-event pameran, dari FKY, Basar Seni, Beber Seni, Jambore Nasional Seni Rupa, hingga pameran-pameran di Hotel bintang Lima tidak luput diramaikan oelh hasil karya Choirun Sholeh ini.
Studio Abah Choirun Sholeh Di Klaten
Tahun 2000, Setelah pecinta seni dan kolektor mulai mengenalnya…, Choirun Sholeh memilih pindah dan menetap di Klaten sebagai tempat di mana beliau di lahirkan. Membangun rumah dan studio di Klaten untuk aktivitasnya melukis hingga saat ini.
Choirun Sholeh & PELUKIS NATURALIS TANPA MAKHLUK BERNYAWA.
Lukisan Landscape Karya Choirun Sholeh
Berjalan dengan waktu…, saat ini Choirun Sholeh memutsukan untuk beralih pada LUKISAN PEMANDANGAN ALAM TANPA MAKHLUK YANG BERNYAWA. Mungkin menjadi pertanyaan bagi anda…, apa yang menyebabkan Choirun Sholeh memilih beralih pada aliran Naturalis dengan tidak menyertakan makhluk yang bernyawa ke dalam lukisannya. Sebagaimana yang telah Choirun Sholeh fahami & yakini berdasarkan AlQur’an & AlHadist, bahwa melukis makhluk yang bernyawa itu tidaklah diperbolehkan secara syar’i. Dengan segenap alasan yang diyakininya itulah yang saat ini menjadi latar belakang karya –karya lukisan Choirun Sholeh tanpa menyertakan makhluk yang bernyawa hingga saat ini dan seterusnya. Semoga pembaca bisa menghargai apa yang sudah beliau yakini saat ini.
Lukisan Choirun Sholeh yang di koleksi Bapak SBY
Choirun Sholeh & PEJABAT TINGGI NEGARA
Perjuangan bukanlah sia-sia. Tekad dan harapan yang besar salah satu faktor yang membentuknya menjadi seorang pelukis yang cukup dikenal. Dan ini semua dicapai karena kemudahan dari Allah semata.
Dari hasil karya- karyanya yang telah tersebar saat ini…, beberapa sudah di koleksi oleh pejabat Negara dan pengusaha besar Indonesia. Antara lain seperti :
- Bapak Presiden Susilo Bambang Yudayana (baca : Koleksi lukisan Bapak Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono)
- Bapak Menseskap Dipo Alam 
- Bapak mantan kepala BIN Sutanto
- Bapak Hary Cahyono mantan wakasad
- Karyanya juga banyak di pajang di Instansi Pemerintah seperti di Istana Negara (baca : Salah satu koleksi lukisan Istana Negara karya Choirun Sholeh)
- Kementrian Sekertaris Negara dan masih banyak lagi.
AKHIR KATA
Kiranya biografi Choirun Sholeh ini cukup memberi inspirasi bermanfaat bagi pembaca sekalian.
Ketahuilah…, perjuangan butuh tekad, keberanian, pengorbanan dan paling penting adalah tuntunan dari Allah subhanahu wata’ala. Jangan pernah menganggap diri besar dengan sendirinya.., karena peran andil Allah subhanahu wata’ala sang pencipta dan pemberi rezki sangat besar dalam jalan hidup setiap anak manusia.
Akhirul kalam …, Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilayhi.
Sumber
Group WA Pelukis Indonesia
Share:
+ Follow
Join on this site

with Google Friend Connect

Total Tayangan Halaman

Pengikut

Popular Posts

Label Cloud