Pameran Lintas Generasi " Wonderful Indonesia "

Wonderful Indonesia
Pameran seni, sebuah perhelatan yang menjadikan pelaku seni mempertanggung jawabkan pekerjaannya kepada publik secara umum.

Seni bukan hanya semata-mata membuat, Tetapi proses menjadi adalah sebuah nilai dari pengkaryaan tersebut.

Dalam pameran ini ada hal yang berbeda, bertajuk Pameran Lintas Generasi "Wonderful Indonesia", pameran kali ini tidak hanya diikuti oleh pelaku seni profesional, yang membedakan dalam pameran kali ini adalah, keterlibatan anak-anak yang berusia mulai dari 3-12 tahun. 


Pameran ini memang berbeda dengan pameran yang biasa dilakukan diberbagai tempat, dalam pameran ini ArtVance bersama Blu Plaza memberikan sebuah gebrakan untuk menggandeng anak-anak berkreasi dan mengeksplorasi imajinasi serta ide mereka yang dituangkan dalam media seni lukis yang berdampingan dengan pelaku seni profesional.

Mungkin akan terasa asing mendengar nama anak-anak ini dalam kancah seni lukis di Indonesia, tapi hal tersebut bukan sebuah alasan untuk mengajak para seniman-seniman cilik ini untuk berkarya.

Pelukis Balita ( Aldrik ) sedang demo membuat lukisan abstrak , di kelilingi teman-teman sebayanya
Aldrik Abizar Saefaturrahman - Pelukis Cilik
Kami percaya, seni bukan hanya hegemoni pelaku seni profesional semata, seni adalah milik rakyat, seni harus dikenal dan menjadi bagian hidup sehari-hari masyarakat, dan dari sinilah kesenian itu mulai menjadi bagian hidup kita.

Hal tersebut sejalan dengan pemahaman bapak Sopar Makmur (komisionaris KPAI Bekasi) yang berkenan membuka pameran tersebut, Bapak Sopar Makmur menjelaskan dalam pembukaannya, bahwa anak-anak Indonesia adalah aset negara Indonesia, merekalah generasi penerus bangsa ini, dan dari merakalah masa depan bangsa ini.

Display Pameran
KPAI-pun sangat mengapresiasi apa yang dilakukan ArtVance dan Blu Plaza, karena pameran ini melibatkan anak-anak, sehingga mereka dapat berkreasi.
 
Pelukis Bersama Komisioner KPAD Bekasi
Selamat berpameran, selamat berkarya dan sukses untuk semua peserta pameran, ini baru langkah awal, akan ada langkah besar dikemudian hari yang harus dikerjakan untuk semakin menancapkan taring seni dimasyarakat, sehingga seni benar-benar menjadi bagian keseharian hidup.


Share:

Artvance Award 2018


Untuk memeriahkan 
Event Asian Games 2018 
dan menandai lahirnya 
Artvance
kami mengadakan....! 


Ketentuan lomba sesuai yang tertera dalam brosur 
13 karya terpilih wajib dikirim ke alamat kantor pusat
3 karya terbaik ( Juara 1,2&3 ) menjadi hak milik panitia
10 karya terpilih akan dikembalikan ke pelukis 
dan mendapat piagam penghargaan serta souvenir menarik

Selamat berlomba

Indonesia Juara!!!

#ArtvanceAward2018
#IndonesiaJuaraAsianGames

Informasi
WA 0813-1883-0646

Share:

Semangat di Balik Coretan Dinda

Dinda Dan Semangatnya
Dinda tertidur pulas beralaskan terpal dan diselimuti debu jalanan. Bising knalpot dan asap kendaraan tak membuat siswi SMP itu terbangun dari mimpinya. Padahal pekerjaannya baru selesai sebagian.

Beberapa hari ini Dinda memang harus begadang, untuk menuntaskan pekerjaan barunya, mural Asian Games 2018. Selasa, 7 Agustus 2018, lukisan di tembok itu harus tuntas.

"Karena dikejar jam 9 pagi, hari Selasa harus selesai. Sedangkan Selasa Dinda mau masuk sekolah, karana ada ulangan. Akhirnya ngebut sampai jam 3 pagi (selesai)," ujar Amalia, ibunda Dinda, Rabu 8 Agustus lalu.

Progress Mural
Tak mudah memang bagi Dinda untuk menuntaskan pekerjaan yang satu ini. Pertama, ini pengalaman perdana dia membuat mural. Kedua, lokasi mural di tiang tol dengan ketinggian hingga lima meter. 

Belum lagi posisi tiang tol ini diapit busway alias jalur bus Transjakarta, sehingga terlalu berisiko. Di sisi lain tidak ada safty atau pengaman, alhasil pergerakan Dinda saat mural terbatas. 

Tapi semua ini adalah tantangan baru buat Dinda. Karena melukis adalah hobinya. Pekerjaan ini dijalani dengan sungguh-sungguh dan penuh sukacita, meski pun nyawa taruhannya.

"Kata dia asyik mah ikut, bisa tahu cara mural gimana," ujar Amalia.

1. Semangat gotong royong

Kerja Sama Tim Mural
Untuk mengerjakan mural ini, Dinda memang tidak sendirian. Ia dibantu tiga teman sekolahnya. Luas area mural yang diperkirakan mencapai sembilan meter itu, memang sulit dirampungkan sendirian dalam waktu singkat, mengingat ada beberapa kendala.

Meski sudah dibantu tiga temannya, namun Dinda baru bisa merampungkan muralnya empat hari. Selain ada beberapa kendala di lokasi, konsep awal dan kenyataan di lapangan ternyata berbeda.

Sehingga siswi kelas 8 SMP 5 Klari, Kabupaten Karawang itu harus menambahkan beberapa objek di muralnya. Area muralnya terlalu luas dari desain konsep awal.  

"Banyak tambahan dari konsep awal. Makanya perkiraan Sabtu-Minggu selesai, jadi nambah harinya," ujar Amalia.

"Karena itu lokasi baru pertama kali lihat, jadi aplikasi ke tiang (tol) malah berkembang dari konsep awal. Karena sambil jalan, sambil mikir, banyak yang ditambahin sama mereka," imbuh perempuan bernama lengkap Amalia Wijayanti itu.

Dinda Focus mengerjakan Mural
Tak hanya itu, ada kendala lain saat Dinda harus menyelesaikan mural ini. Tiga temannya harus sekolah, sehingga ayah Dinda dan teman ibunda ikut membantu, menggantikan ketiga temannya.

Dinda juga terpaksa harus izin sekolah dua hari, karena mural ini tak cukup diselesaikan dua hari saat akhir pekan. "Terpaksa izin sekolah. Izin dua hari, Sabtu sama Senin," ujar ibu dua anak itu.

Bantuan dari sang ayah dan teman ibundanya juga tidak maksimal. Karena sang ayah hanya bisa membantu saat hari Minggu. Karena hari biasa mereka harus bekerja. Begitu juga teman ibundanya, yang ternyata takut dengan ketinggian.

"Karena lokasi tinggi, ada teman, Pak Djarots yang bersedia bantu ngeblok sisi-sisi tiang. Terus dibantu Pak Djarot itu, yang ternyata takut ketinggian," ujar perempuan bernama lengkap Amalia Wijayanti itu, tertawa.

Setelah dikerjakan beberapa hari sejak 4 Agustus lalu, Dinda akhirnya dapat merampungkan mural Asian Games 2018 pada Selasa dini hari, 7 Agustus.

"Jam 3 pagi akhirnya selesai," ujar Amalia.

2. Dinda harus menerima kekalahan tapi punya pengalaman baru

Dinda Melukis Diatas Scaffolding
Pekerjaan yang cukup melelahkan ini rupanya diperlombakan namun tidak membuahkan hasil. Dinda harus menerima kekalahan lomba mural untuk menyambut ajang olahraga Asian Games 2018.

Tapi itu tidak membuat Dinda patah hati, karena ini hanya bagian dari dukungan untuk Asian Games 2018. Bagi anak pasangan Amalia Wijayanti dan Juni Murni Setiyono itu, menang kalah sudah biasa. Karena sejak kecil ia sudah terbiasa mengikuti berbagai perlombaan melukis.

"Dari kecil udah bisa ikut perlombaan, udah biasa," ujar Amalia.

Justru perlombaan mural ini menjadi pengalaman baru sekaligus pemacu semangat Dinda dalam berkarya di dunia seni. Sebab, jika mau hitungan kasar, perjungan dan hadiah yang diperoleh Dinda tidak lah sebanding. 

Pertama, Dinda harus melibatkan keluarga dan teman sekolahnya beberapa hari, yang otomatis memakan biaya yang tidak sedikit selama proses menyelesaikan mural. Sementara, panitia memberikan akomodasi Rp1 juta kepada setiap tim dan peralatan seperti cat dan dastang atau rangka besi.

"Dinda dari panitia cuma dikasih Rp1 juta untuk tim selama empat hari," ujar Amalia.

Banyak pengalaman menarik yang menjadi pelajaran Dinda. Mulai tidur di jalanan, bermalam di antara tumpukan kertas di kantor percetakan milik teman ibundanya, sampai harus mencari-cari tempat buang hajat yang sulit didapat.  

"Ini pengalaman berharga, bisa menjadi militan, bisa tidur di jalanan. Kita numpang nginep di kantornya mas Danar, kantor percetakan, kita tidur di antara tumpukan kertas. Belum lagi cari-cari toilet buat buang air karena panitia gak nyediain, giliran sudah dapat di kantor polisi, malah mampet," kenang Amalia.

Ada yang membuat Dinda merasa bangga saat terlibat dalam pembuatan mural Asian Games 2018. Di antara ratusan seniman mural, dia salah satu yang terpilih untuk menghias tiang tol mulai pintu tol Rawamangun sampai pintu tol Pulomas. Semuanya ada 200 seniman yang terpilih untuk menghias 73 tiang tol.

Sejak awal, Dinda juga sangat bersemangat mengikuti perlombaan ini. Dia mengirimkan desain bertema Asian Games 2018 kepada panitia, hingga akhirnya ia terpilih. 

"Dia membuat dua desain sendiri pakai komputer, terus dikirim ke panitia. Alhamdulillah, terpilih," ujar Amalia, yang harus mongawal Dinda hingga pengerjaan mural selesai.

Dinda Bersama Tim Mural
Namun, panitia mensyaratkan satu tim ada empat orang, karena itu, bocah kelahiran Blora 21 Februari 2005 itu mengajak tiga teman sekolahnya untuk mengerjakan mural. Dinda akhirnya mendapat lokasi mural persis di tiang tol perempatan Jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur.

Di sisi lain, selama proses pengerjaan mural, Dinda juga harus dikawal sang ibundanya. Karena bagaimana pun bocah 13 tahun itu masih membutuhkan pengawasan dari orangtuanya.

"Aku terus ngawal dia, siang malem. Dinda itu suka muncul gilanya kalau lagi ngelukis. Suka lupa waktu. Di rumah aja kalau lagi libur, suka begadang melukis sampai pagi," ujar Amalia.

Satu hal yang membuat Dinda bersemangat mengikuti ajang perlombaan ini, karena dia ingin terlibat langsung untuk mendukung dan menyukseskan Asian Games 2018 dengan cara tersendiri.

"Ya pastinya rasa bangga bisa ikut terlibat meramaikan acara Asian Games dengan cara berbeda, dan mudah-mudahan coretan Dinda bisa memperindah Jakarta," tutur Amalia.

Share:
+ Follow
Join on this site

with Google Friend Connect

Total Tayangan Halaman

Pengikut

Popular Posts

Label Cloud