Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Mengagumkan, Serbuk Bangunan Ternyata Bisa Jadi Media Lukisan

Lukisan media oyan " Acara Solichin drawing workshop "
Oyan atau serbuk dari toko bangunan ternyata memiliki cita rasa tinggi untuk hasil lukisan, Media ini memiliki kelebihan bisa digunakan di kanvas maupun kertas, Pelukis Yogyakarta, Achmad Solichin mengatakan, melukis menggunakan media oyan tergolong masih baru, Hal inilah yang berusaha diberikan kepada para peserta pelatihan melukis yang diadakan oleh Artvance Karawang, Minggu (4/2/2019) sore di Kantor Kelurahan Nagasari.

Menurut Solichin, dalam seni lukis media dan teknik menjadi hal penting yang harus dipahami. Salah satu media yang sangat jarang digunakan dan diketahui banyak orang adalah media oyan. Ia mengaku mendapatkan ide menggunakan serbuk bangunan dari seorang kawan.

"Media ini murah ya. Jadi ideal untuk para pelukis pemula. Kelebihanya juga banyak," kata Solichin saat ditemui matapembaruan.com.


Ia menjelaskan, kegiatan ini tercetus dari kawan kawanya sesama pelukis dan penikmat seni lukis di media sosial. Kata dia, mereka banyak yang menanyakan proses penciptaan lukisan menggunakan media oyan. Selain memberikan materi tersebut, ia juga berkesempatan membagi ilmunya soal teknik proyeksi mata dan cara cepat melukis dengan cat minyak.
" Teknik proyeksi mata yang ajarkan adalah untuk mendapatkan proporsi yang akurat tidak perlu menggunakan grid atau proyektor atau alat lainnya. Namun dengan tingkat kemiripan secara sempurna, "
Sekertaris Artvance, Amalia Wijayanti mengatakan kegiatan pelatihan melukis tersebut dilaksanakan selama dua hari mulai, Sabtu (3/1/2019). Pelatihan ini, kata dia, dihadiri oleh semua seniman yang tergabung di dalam komunitas lukis mulai dari Karawang, Bandung, Jakarta dan beberapa kota lainnya.

"Kegiatan ini sebenarnya dikhususkan untuk para pelukis pemula. Mereka diajarkan membuat sketsa wajah," ucapnya. (pj)

Sumber Berita: http://matapembaruan.com/artikel-702-mengagumkan-serbuk-bangunan-ternyata-bisa-jadi-media-lukisan.html

Share:

Semangat di Balik Coretan Dinda

Dinda Dan Semangatnya
Dinda tertidur pulas beralaskan terpal dan diselimuti debu jalanan. Bising knalpot dan asap kendaraan tak membuat siswi SMP itu terbangun dari mimpinya. Padahal pekerjaannya baru selesai sebagian.

Beberapa hari ini Dinda memang harus begadang, untuk menuntaskan pekerjaan barunya, mural Asian Games 2018. Selasa, 7 Agustus 2018, lukisan di tembok itu harus tuntas.

"Karena dikejar jam 9 pagi, hari Selasa harus selesai. Sedangkan Selasa Dinda mau masuk sekolah, karana ada ulangan. Akhirnya ngebut sampai jam 3 pagi (selesai)," ujar Amalia, ibunda Dinda, Rabu 8 Agustus lalu.

Progress Mural
Tak mudah memang bagi Dinda untuk menuntaskan pekerjaan yang satu ini. Pertama, ini pengalaman perdana dia membuat mural. Kedua, lokasi mural di tiang tol dengan ketinggian hingga lima meter. 

Belum lagi posisi tiang tol ini diapit busway alias jalur bus Transjakarta, sehingga terlalu berisiko. Di sisi lain tidak ada safty atau pengaman, alhasil pergerakan Dinda saat mural terbatas. 

Tapi semua ini adalah tantangan baru buat Dinda. Karena melukis adalah hobinya. Pekerjaan ini dijalani dengan sungguh-sungguh dan penuh sukacita, meski pun nyawa taruhannya.

"Kata dia asyik mah ikut, bisa tahu cara mural gimana," ujar Amalia.

1. Semangat gotong royong

Kerja Sama Tim Mural
Untuk mengerjakan mural ini, Dinda memang tidak sendirian. Ia dibantu tiga teman sekolahnya. Luas area mural yang diperkirakan mencapai sembilan meter itu, memang sulit dirampungkan sendirian dalam waktu singkat, mengingat ada beberapa kendala.

Meski sudah dibantu tiga temannya, namun Dinda baru bisa merampungkan muralnya empat hari. Selain ada beberapa kendala di lokasi, konsep awal dan kenyataan di lapangan ternyata berbeda.

Sehingga siswi kelas 8 SMP 5 Klari, Kabupaten Karawang itu harus menambahkan beberapa objek di muralnya. Area muralnya terlalu luas dari desain konsep awal.  

"Banyak tambahan dari konsep awal. Makanya perkiraan Sabtu-Minggu selesai, jadi nambah harinya," ujar Amalia.

"Karena itu lokasi baru pertama kali lihat, jadi aplikasi ke tiang (tol) malah berkembang dari konsep awal. Karena sambil jalan, sambil mikir, banyak yang ditambahin sama mereka," imbuh perempuan bernama lengkap Amalia Wijayanti itu.

Dinda Focus mengerjakan Mural
Tak hanya itu, ada kendala lain saat Dinda harus menyelesaikan mural ini. Tiga temannya harus sekolah, sehingga ayah Dinda dan teman ibunda ikut membantu, menggantikan ketiga temannya.

Dinda juga terpaksa harus izin sekolah dua hari, karena mural ini tak cukup diselesaikan dua hari saat akhir pekan. "Terpaksa izin sekolah. Izin dua hari, Sabtu sama Senin," ujar ibu dua anak itu.

Bantuan dari sang ayah dan teman ibundanya juga tidak maksimal. Karena sang ayah hanya bisa membantu saat hari Minggu. Karena hari biasa mereka harus bekerja. Begitu juga teman ibundanya, yang ternyata takut dengan ketinggian.

"Karena lokasi tinggi, ada teman, Pak Djarots yang bersedia bantu ngeblok sisi-sisi tiang. Terus dibantu Pak Djarot itu, yang ternyata takut ketinggian," ujar perempuan bernama lengkap Amalia Wijayanti itu, tertawa.

Setelah dikerjakan beberapa hari sejak 4 Agustus lalu, Dinda akhirnya dapat merampungkan mural Asian Games 2018 pada Selasa dini hari, 7 Agustus.

"Jam 3 pagi akhirnya selesai," ujar Amalia.

2. Dinda harus menerima kekalahan tapi punya pengalaman baru

Dinda Melukis Diatas Scaffolding
Pekerjaan yang cukup melelahkan ini rupanya diperlombakan namun tidak membuahkan hasil. Dinda harus menerima kekalahan lomba mural untuk menyambut ajang olahraga Asian Games 2018.

Tapi itu tidak membuat Dinda patah hati, karena ini hanya bagian dari dukungan untuk Asian Games 2018. Bagi anak pasangan Amalia Wijayanti dan Juni Murni Setiyono itu, menang kalah sudah biasa. Karena sejak kecil ia sudah terbiasa mengikuti berbagai perlombaan melukis.

"Dari kecil udah bisa ikut perlombaan, udah biasa," ujar Amalia.

Justru perlombaan mural ini menjadi pengalaman baru sekaligus pemacu semangat Dinda dalam berkarya di dunia seni. Sebab, jika mau hitungan kasar, perjungan dan hadiah yang diperoleh Dinda tidak lah sebanding. 

Pertama, Dinda harus melibatkan keluarga dan teman sekolahnya beberapa hari, yang otomatis memakan biaya yang tidak sedikit selama proses menyelesaikan mural. Sementara, panitia memberikan akomodasi Rp1 juta kepada setiap tim dan peralatan seperti cat dan dastang atau rangka besi.

"Dinda dari panitia cuma dikasih Rp1 juta untuk tim selama empat hari," ujar Amalia.

Banyak pengalaman menarik yang menjadi pelajaran Dinda. Mulai tidur di jalanan, bermalam di antara tumpukan kertas di kantor percetakan milik teman ibundanya, sampai harus mencari-cari tempat buang hajat yang sulit didapat.  

"Ini pengalaman berharga, bisa menjadi militan, bisa tidur di jalanan. Kita numpang nginep di kantornya mas Danar, kantor percetakan, kita tidur di antara tumpukan kertas. Belum lagi cari-cari toilet buat buang air karena panitia gak nyediain, giliran sudah dapat di kantor polisi, malah mampet," kenang Amalia.

Ada yang membuat Dinda merasa bangga saat terlibat dalam pembuatan mural Asian Games 2018. Di antara ratusan seniman mural, dia salah satu yang terpilih untuk menghias tiang tol mulai pintu tol Rawamangun sampai pintu tol Pulomas. Semuanya ada 200 seniman yang terpilih untuk menghias 73 tiang tol.

Sejak awal, Dinda juga sangat bersemangat mengikuti perlombaan ini. Dia mengirimkan desain bertema Asian Games 2018 kepada panitia, hingga akhirnya ia terpilih. 

"Dia membuat dua desain sendiri pakai komputer, terus dikirim ke panitia. Alhamdulillah, terpilih," ujar Amalia, yang harus mongawal Dinda hingga pengerjaan mural selesai.

Dinda Bersama Tim Mural
Namun, panitia mensyaratkan satu tim ada empat orang, karena itu, bocah kelahiran Blora 21 Februari 2005 itu mengajak tiga teman sekolahnya untuk mengerjakan mural. Dinda akhirnya mendapat lokasi mural persis di tiang tol perempatan Jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur.

Di sisi lain, selama proses pengerjaan mural, Dinda juga harus dikawal sang ibundanya. Karena bagaimana pun bocah 13 tahun itu masih membutuhkan pengawasan dari orangtuanya.

"Aku terus ngawal dia, siang malem. Dinda itu suka muncul gilanya kalau lagi ngelukis. Suka lupa waktu. Di rumah aja kalau lagi libur, suka begadang melukis sampai pagi," ujar Amalia.

Satu hal yang membuat Dinda bersemangat mengikuti ajang perlombaan ini, karena dia ingin terlibat langsung untuk mendukung dan menyukseskan Asian Games 2018 dengan cara tersendiri.

"Ya pastinya rasa bangga bisa ikut terlibat meramaikan acara Asian Games dengan cara berbeda, dan mudah-mudahan coretan Dinda bisa memperindah Jakarta," tutur Amalia.

Share:

Sekelumit Kisah Tentang Cat Air

Lukisan Cat Air
Author : Deskamtoro

Cat air atau populer juga dengan sebutan aquarel adalah medium lukisan yang menggunakan pigmen dengan pelarut air dengan sifat transparan. Meskipun medium permukaannya bisa bervariasi, biasanya yang digunakan adalah kertas. Selain itu bisa pula papyrus, kulit, kain, kayu, atau kanvas. Secara umum, cat air digunakan karena sifat transparansinya. Gouache adalah medium pengencer air yang tidak transparan tetapi bersifat menutup. Hasil karya lukisan cat air biasanya bersifat sangat ekspresif, atau sebaliknya sangat impresif, tergantung teknik yang digunakan.

Apabila ditilik dari sejarah perkembangan seni lukis cat air, kita bisa merunut dari perkembangan seni lukis dunia yang diawali dengan lukisan-lukisan tertua yang berada di Chauvet Grotte di Perancis. Lukisan-lukisan ini diklaim oleh beberapa sejarawan dari sekitar 32.000 tahun yang lalu. Lukisan itu diukir dan dicat menggunakan oker merah dan pigmen hitam dan menampakan kuda, badak, singa, kerbau, raksasa, desain abstrak dan sejenis sosok manusia mungkin parsial. Namun bukti paling awal penciptaan lukisan telah ditemukan di dua tempat penampungan batu di Arnhem Land, di Australia utara. Pada lapisan terendah material pada situs ini tidak digunakan potongan oker diperkirakan 60.000 tahun. Para arkeolog juga menemukan sebuah fragmen dari lukisan batu diawetkan dalam batu kapur batu-tempat penampungan di wilayah Kimberley Utara-Australia Barat, yaitu tanggal 40 000 tahun. Ada contoh lukisan gua di seluruh dunia-di India , Perancis, Spanyol, Portugal, Cina, Australia, dllDalam budaya Barat lukisan cat air memiliki tradisi kaya dan kompleks dalam hal gaya dan subjek. Dalam tinta Timur, tinta dan warna historis didominasi pilihan media dengan tradisi sama-sama kaya dan kompleks.

Sementara itu, ada sejarah lain yang menunjukkan perkembangan lukisan cat air dimulai dari penemuan kertas di Tiongkok sekitar 100 M. Pada abad 12 bangsa Moor memperkenalkan kertas ke Spanyol dan kemudian menyebar ke Italia beberapa dekade berikutnya. Pabrik kertas tertua terletak di Fabriano, Italia yang didirikan tahun 1276, dan Arches, Perancis pada tahun 1492. Teknik cat air menjadi terkenal di Eropa dengan sering digunakannya teknik fresko. Lukisan cat air tertua yang pernah ditemukan dibuat oleh Raffaello Santi yang membuat kartun-kartun untuk desain gorden. Di Jerman, Albrecht Dürer membuat lukisan cat air pada abad 15. Sekolah lukisan cat air pertama dibuka oleh Hans Bol dan sangat dipengaruhi oleh karya-karya Dürer. Pelukis cat air terkenal lainnya adalah van Dyck, Thomas Gainsborough, dan John Constable. Paul Sandby dianggap bapak lukisan cat air Inggris Raya.

Cat air dibuat dari pigmen halus atau serbuk warna (dye) yang dicampur dengan gum arabic sebagai bahan baku, serta gliserin atau madu untuk menambah kekentalan dan dayarekat pikmen warna ke permukaan.

Biasanya cat air digunakan dengan kuas lancip yang lembut bulunya dan air yang berlebih, tetapi bisa pula dicampurkan dengan material lain. Biasanya akrilik atau collage. Cat air dengan campuran air berlebih menghasilkan warna yang terang dan segar. Warna ini dihasilkan oleh cahaya yang mampu menembus lapisan cat yang transparan.
Warna putih biasanya dihasilkan dari bagian-bagian yang tidak diberi lapisan cat. Sangat jarang lukisan yang sengaja memberikan lapisan putih dari cat air.

Menggunakan cat warna butuh kesabaran yang tinggi. Teknik yang umum digunakan biasanya dihasilkan dari lapisan-lapisan yang saling ditimpakan setelah lapisan sebelumnya telah kering sehingga menghasilkan gradasi warna. Namun teknik lain wet-on-wet yang menimpakan warna di atas lapisan yang masih basah juga membutuhkan ketelitian tinggi untuk mendapatkan hasil maksimal. Resiko lainnya adalah kertas menjadi melengkung atau robek jika terlalu banyak menggunakan air dan terlalu banyak gesekan kuas dengan permukaan kertas.

Walaupun melukis dengan menggunakan cat air adalah basic dari belajar melukis secara umum, tetapi belajar melukis cat air sering kali dilewatkan karena dianggap mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi dibandingkan melukis dengan bahan lainnya. Mungkin saja melukis menggunakan cat air tidak banyak menjadi pilihan para pelukis, hal tersebut dikarenakan berbagai faktor, antara lain: lukisan cat air tidak seawet lukisan cat minyat yang mampu bertahan selama ratusan tahun, hal tersebut dikarenakan bahan yang digunakan untuk melukis cat air menggunakan media kertas yang tentu saja ketahanan terhadap cuaca sekitar akan sangat rentan terhadap kerusakan. Hal lain yang menjadikan lukisan cat air kurang menjadi pilihan karena tingkat kesulitan dalam teknik cat air, keterbatasan media yang digunakan, serta sagat rentan dengan faktor cuaca ruangan.

Apabila dikatakan mudah, sebenarnya melukis dengan menggunakan cat air cukup sulit karena pelukis harus memahami kualitas kertas atau media yang digunakan, cat yang digunakan, kekentalan serta keenceran cat, jumlah air yang dibutuhkan saat menorehkan car kemedia, komposisi warna yang akan sangat berpengaruh terhadap hasil akhir, pencampuran warna agar menciptakan suatu gradasi yang diharapkan, basah serta keringnya cat yang akan dicampurkan diatas media serta pengolahan emosi pelukis saat menorehkan warna yang dipilihnya keatas media. dari beberapa diskusi dengan beberapa seniman cat air dan orang yang sedang belajar melukis dengan cat air, saya menadapatkan beberapa pendapat yang kurang lebih hampir sama, yaitu melukis dengan cat air, kadang hasil yang kita inginkan tidak sesuai dengan hasil, baik dari warna maupun gradasi warna. Banyak faktor yang mempengaruhi suatu hasil dari melukis menggunakan cat air, hal tersebut seperti yang sudah saya jelaskan diatas. 

Tetapi, melukis menggunakan cat airpun mempunyai beberapa kelebihan yang tidak dimiliki saat melukis dengan teknik lainnya. teknik melukis dengan cat air memberikan warna-warna yang ekspresif dalam suatu karya lukis. Nilai ekspresif itulah yang sering kali akan mengejutkan karena dipengaruhi juga dengan media yang digunakan oleh pelukis. Ketepatan dalam memilih bahan, media serta objek lukisan menjadikan melukis dengan teknik cat air lebh menghasilkan warna yang beragam serta memberikan berbagai macam kejutan-kejutan dalam setiap segmen cerita yang diuangkapkan. Melukis menggunakan cat air itu 50:50, hal tersebut dikarenakan seperti kita bermain dadu, dalam satu sisi hasil yang kita dapatkan karena kemampuan teknik serta kemampuan kita dalam menguasai media, alat maupun bahan tetapi disisi lain hal tersebut dikarenakan faktor-faktor aliran air, kebasahan kuas, serta faktor cuaca dan yang pasti kejelian pelukis dalam mengenal karyanya saat penciptaan. Berbagai teknik bisa menjadi pilihan dalam melukis menggunakan cat air, mulai dari teknik halus, bloboran, serta berbagai teknik lainnya, juga berbagai aliran karya senipun bisa tecipta, mulai dari realist, naturalis, ekspresif, abstrak, kubisme, impresionis serta berbagai aliran seni lainnya.

Belum banyak seniman yang berkarya menggunakan cat air. Dari sekian banyak pelukis di Indonesia, lukisan cat air adalah lukisan yang belum banyak dilirik, karena lukisan cat minyak masih menjadi primadona dikancah seni lukis Indonesia maupun dunia. Tetapi tidak ada salahnya saat belum banyak pelukis ataupun penggiat seni memilih cat air sebagai media ekspresi dan kita para pelaku seni atau yang sedang belajar seni lukis menjadikan cat air sebagai media pilihan dalam berkarya seni. Bukankah berbeda serta memberikan rasa yang berbeda dalam suatu karya seni bisa mamberikan hal yang baru serta segar dalam kancah seni rupa? Bukan tanpa alasan hal tersebut coba dilakukan. Seni lukis cat air saat ini masih didominasi oleh seniman luar negeri semisal Amerika serta Eropa, sementara seniman di Indonesia masih belum banyak menyentuh seni lukis cat air sebagai pilihan. Menjadi pendobrak suatu kemapanan kesenian bisa juga sebagai alasan atau alternatif dalam berkarya seni. Perkembangan seni lukis di luar negeri sudah sejajar dengan seni lukis cat minyak, hal tersebut karena masyarakat luar negeri sudah memahami bagaimana suatu proses karya seni itu tercipta, bukan hasil akhir karya seni. Tentu tidak mudah melakukan hal tesebut di Indonesia, tapi tidak mudah bukan berarti tidak mungkin. Kualitas seniman cat air di Indonesia saat inipun mulai meningkat, berbagai event pameran dilakukan dalam skala kecil untuk mulai meperkenalkan melukis cat air ke publik agar menjadi pilihan dalam apresiasi karya seni, bukan lagi menjadi alternatif pilihan selain cat minyak, sebab dalam perkembangannyapun, melukis cat air bisa diaplikasikan pada media selain kertas, semisal kanvas, papan kayu, triplek, kaca, keramik, batu serta berbagai media alternatif lainnya. Pemanfaatan berbagai macam media tersebut bisa menjadi suatu pengalaman yang akan menarik untuk dilakukan agar cat air tidak hanya berhenti pada kertas saja tetapi bisa merambah pada ranah media lainnya. Penguasaan teknik tentunya menjadi hal mutlak yang harus dimiliki dari seorang pelukis cat air. Penguasaan bahan serta alat memberikan sumbangsih terhadap hasil yang diciptakan.

Jadi, menurut anda, apakah yang menjadikan seni lukis cat air menjadi pilihan dalam karya seni lukis dengan segala kesulitan, kerumitan serta kindahan dan pesona warnanya yang aktraktif dalam balutan tetesan air yang mengalir diatas kertas ataupun media alternatif lainnya? 
saya hanya berbagi opini, anda yang menilainya, anda yang menikmatinya serta andalah yang menjadikan cat air sebagai suatu karya sensasional dalam kancah seni rupa dunia...semua dimulai darimu untuk seni rupa dunia...

Author : Deskamtoro
salam ART!
Share:

Mengenal Deskamtoro

Deskamtoro Bersama Komunitas Cat Air Internasional
Mungkin tidak banyak orang yang ketika dewasa kelak bercita-cita untuk menjadi seorang pelukis. Terlebih orang tersebut tidak memiliki bakat sama sekali tentang seni lukis. Namun seorang pria asal Yogyakarta bernama Deskamtoro Dwi Utomo, nekat untuk mendalami dunia seni lukis tanpa memiliki bakat lukis sebelumnya.

Pria yang kini berprofesi sebagai pelukis cat air dan juga guru seni lukis ini sejak kecil memang sudah menyukai dunia seni lukis. Ketertarikannya timbul ketika pada saat kelas 4 SD dirinya memiliki seorang guru lukis yang menyenangkan. Sang guru kala itu kerap mengajak murid-muridnya untuk melukis di tengah perkebunan, tepi sungai atau persawahan, sehingga minat terhadap seni lukis pada diri Deskamtoro menjadi tumbuh.

"Padahal, kalau dibilang ada bakat enggak juga. Tetapi memang saat itu keinginan saya untuk menjadi pelukis sangat kuat," ujar Deskamtoro saat berbincang dengan GoHitz di Wisma Antara, Jakarta Pusat, beberapa waktu yang lalu. 

Keinginan Deskamtoro kala itu untuk menekuni seni lukis sempat mendapat tentangan dari kedua orang tuanya. Ayah dan ibu Deskamtoro menilai profesi sebagai seorang pelukis tidak menjamin kesejahteraan di masa depan. Selain itu, profesi ini juga dianggap tidak bisa menghasilkan banyak uang. Namun Pria kelahiran 6 Desember 1979 ini tetap nekat untuk menekuni bidang tersebut.

Di tahun 1995, Deskamtoro masuk ke Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) di Yogyakarta. Dirinya berhasil masuk ke sekolah tersebut berkat bantuan dari kerabatnya, karena sebelumnya ketika mendaftar lewat jalur reguler, Deskamtoro gagal lolos tes seleksi. Rasa hutang budi terhadap kerabatnya tersebut menjadi lecutan semangat bagi Deskamtoro untuk menekuni ilmu seni lukis dengan sungguh-sungguh. Hasilnya, Deskamtoro sukses masuk dalam peringkat 10 besar siswa berprestasi di sekolahnya. 

"Saya ingin membuktikan bahwa walaupun saya tidak memiliki bakat, tetapi ketika saya memiliki kemauan yang keras dan terus berusaha bersungguh-sungguh, saya bisa membuktikan kalau saya mampu," tutur pria asli Yogyakarta tersebut. 

Tahun 1999 Deskamtoro berkuliah di Institut Seni Yogyakarta. Di sela-sela aktivitas perkuliahannya, Deskamtoro juga mengambil pekerjaan di Jakarta untuk mengurusi berbagai proyek yang berkaitan dengan seni lukis. Dirinya percaya bahwa dengan bekerja, kemampuan dirinya di bidang seni lukis akan semakin terasah. Tentu dengan diimbangi oleh ilmu pengetahuan yang diperoleh di bangku perkuliahan. Deskamtoro lulus dari ISI Yogyakarta pada tahun 2007.

Lukisan Cat Air
Deskamtoro kini dikenal sebagai seorang pelukis yang fokus terhadap teknik lukis menggunakan cat air. Dia menganggap teknik melukis menggunakan cat air memiliki tantangan tersendiri. Meski banyak orang menilai teknik ini merupakan teknik dasar dalam melukis, tapi dalam prakteknya teknik ini memiliki tingkat kesulitan tersendiri. 

"Di seni lukis cat air kalau sudah salah tidak bisa diulang. Jadi, biarlah cat air yang melakukan prosesnya. Yang kedua Lukisan cat air tidak bisa direproduksi. Tidak bisa diplagiat. Saya jamin mau sedetail apapun tetap tidak bisa sama hasilnya," ucap pengagum karya-karya dari Pelukis S. Sudjojono ini. 
Karya-karya yang dihasilkan oleh Deskamtoro kebanyakan beraliran surealis-realis. Menurutnya, kedua aliran tersebut merupakan penggambaran dirinya yang merupakan seorang pemimpi dengan pemikiran dan imajinasi yang liar, namun tetap memperhatikan unsur-unsur realis dalam setiap karya lukisnya.

Kini, Deskamtoro telah berhasil membuktikan kepada keluaga dan orang-orang terdekatnya bahwa dirinya mampu hidup sejahtera dengan menjadi seorang pelukis. Selain menjadi seorang guru lukis di sekolah dan di sanggar-sanggar, dirinya juga kerap turut serta dalam pameran lukisan baik di dalam negeri maupun luar negeri. Ada satu mimpi besar yang ingin diwujudkan oleh Deskamtoro. Dia ingin membawa harum nama Indonesia di kancah dunia lewat seni lukis cat air. 

"Saya itu selalu ingin membawa nama harum Indonesia melalui seni lukis cat air. Mungkin pelukis lain sudah, tapi inginnya itu saya sendiri yang mengharumkan nama Indonesia lewat karya seni lukis cat air saya," tutur Deskamtoro. 

Source : GoHitz.com
Share:
+ Follow
Join on this site

with Google Friend Connect

Total Tayangan Halaman

Pengikut

Popular Posts

Label

Label Cloud

2018 (1) acrylic (1) artikel (4) artland (1) award (3) blu plaza (1) canvas (1) deskam (1) dwi febri sarianto (1) event (4) jogjakarta (1) liputan (1) lukisan (1) on the spot (1) pameran (4) pameran tunggal (1) pengumuman (1) profil (1) surealis (1) testimoni (1) tokoh (1) workshop (2)